Belitung Timur, infoberitababel.com — Situasi di Kantor Pengawasan Produksi (Wasprod) PT Timah Tbk di Desa Lenggang, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur, kini telah kembali kondusif pada Sabtu (8/8/2026).
Sehari pasca-aksi demonstrasi yang digelar oleh massa penambang pada Jumat (7/8/2026), pihak perusahaan pelat merah tersebut langsung mengambil langkah cepat dengan menginstruksikan Stasiun Pengumpul (STP) untuk membuka kembali aktivitas pembelian bijih timah.
Kebijakan baru ini membawa angin segar bagi para penambang lokal. Pasalnya, PT Timah Tbk tidak hanya membuka kembali keran pembelian, tetapi juga menaikkan harga beli komoditas tersebut menjadi Rp 200.000 per kilogram dengan standar kadar timah (output concentrate/OC) 73.
Asui, perwakilan dari salah satu mitra resmi PT Timah Tbk di STP Rengadaian membenarkan adanya arahan terbaru dari pihak direksi. Menurutnya, aktivitas transaksi akan langsung dimulai pada sore hari ini.
“Iya benar, kami sudah mendapatkan arahan untuk membeli timah hari ini dengan harga Rp 200.000 per kilogram. Rencananya pos pembelian akan kami buka mulai pukul 16.00 WIB sore nanti,” ujar Asui saat dikonfirmasi, Sabtu (8/8/2026).
Langkah responsif dari PT Timah Tbk ini langsung disambut baik oleh masyarakat lingkar tambang yang menggantungkan hidupnya dari sektor ini. Sebelumnya, ketidakpastian pembelian dan fluktuasi harga yang rendah sempat memicu gejolak di kalangan penambang tradisional.
Rasa syukur dan lega diungkapkan oleh Susi, istri seorang penambang asal Kecamatan Kelapa Kampit, saat sedang mengantre menjual timah. Ia sangat bersyukur aktivitas pasar kini telah kembali normal. Ditambah lagi, kenaikan harga timah dari Rp150.000 menjadi Rp200.000 per kilogram diakui sangat membantu menopang perekonomian keluarganya.
“Kami sangat bersyukur hari ini STP sudah mulai membeli lagi. Apalagi harganya sekarang naik jadi Rp 200.000 per kilogram. Sebagai masyarakat penambang, kami sangat berharap ke depannya kondisi ini terus membaik dan semakin stabil,” tutur Susi.
Langkah cepat yang diambil oleh manajemen PT Timah Tbk ini menjadi bentuk nyata pentingnya dialog dan respons positif antara perusahaan dengan masyarakat lokal.
Dengan harga baru yang lebih berpihak pada penambang tradisional, tantangan berikutnya kini berada pada konsistensi regulasi dan stabilitas harga di masa depan. Revitalisasi tata niaga ini diharapkan tidak hanya meredam gejolak sosial sesaat, melainkan menjadi momentum kebangkitan ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat Kabupaten Belitung Timur.
(*/Muslim).







